Kalau bahasa sekarang, Kepo itu lebih diartikan sebagai pengen tahu. Tapi menariknya, rasa pengen tahunya itu menggebu-gebu dan lebih ke negative sense. Beda dengan curious atau penasaran yang lebih positif.
Take theses illustration
1. Anak itu penasaran dengan cara ibunya mengiris bawang merah tanpa menangis. 2. Anak itu kepo dengan isi chat ibunya dengan ayahnya.
beda ya… walaupun mungkin kata “kepo” dan “penasaran” memiliki makna yang serupa.
Aku pernah mengalami kepo yang teramat dalam dengan isi ember yang dibawa adikku waktu itu. Rasa ingin tahu itu kemudian menggerakkan langkahku untuk membuka (yang seharusnya tidak kubuka), melihat (yang seharusnya tidak kulihat).
Yap….aku berlari melihat segerombolan belut yang menari2 mencuat ke atas seperti hendak melompat ke arahku saat kubuka ember bertutup itu.
“Mujur tidak boleh diraih, malang tidak boleh ditolak”aku tidak melihat ada kabel menjuntai di lantai luput dari pandanganku. aku pun jatuh sambil menahan sepiring nasi supaya tidak pecah dan berantakan.
Gelap rasanya waktu itu… tangan kiriku tidak dapat kugerakkan dengan leluasa. Tangis pun tidak bisa meredakan sakit yang saat itu kurasakan. Beberapa orang mengatakan untuk dibawa ke tukang urut. Namun aku dan suamiku memiliki preferensi lain.
Kami memilih untuk rontgen.Benar saja…ada tulang yang patah dan tidak bisa hanya diobati dengan gips saja, dokter tulang yang saat itu menangani menganjurkan untuk melakukan tindakan operasi.
Well, moral value dari cerita ini adalah….kurang-kurangi kepo (artinya untuk hal-hal yang gak begitu penting), tapi kalau kepo tentang ilmu mungkin beda cerita ya….#CeritaTahun2019
Leave a Reply