Jadi saat sekelompok keluarga kecil bahagia kelaparan usai beli skinker dan perlengkapan untuk rumah baru, mampirlah ke resto berwarna ungu untuk beli makan supaya tetap kuat menjalani kerasnya hidup (hahaha).
Masing-masing orang dengan antusias memesan makanan dan minuman favoritnya. Tak jarang sambil berebut, terutama si anak gadis pra remaja dan si anak laki-laki. Sang suami pun bersemangat memesan nasi goreng bebek lombok ijo yang sudah lama tidak ia makan (karena sedang menjaga pola makannya).
Hanya satu orang yang tampak layu seperti bunga yang ga pernah disirami. Terdiam saja memperhatikan riuh yang membuatnya bahagia namun tak cukup daya untuk mencipta lengkungan senyum di bibirnya.
Suaminya melirik ke arah sang istri, “bunda ga pesan?” Dijawabnya dengan gelengan dan kode yang artinya kira-kira “ga usah, ak nunggu sisa adek atau kakak yang sudah pasti ga habis dengan porsi sebanyak itu.” Walau tak terucap, sang suami paham benar kebiasaan istrinya itu.
Makanan datang. Si kakak dan adik lahap menikmati makanan mereka. Sang suami melirik istrinya yang pandangannya entah kemana “mau ngicipin nasgor?” Ia menawarkan. “Gak ah pedes” jawab si istri.
Sementara itu, kedua anak yang biasanya ga habis makanannya, terus menikmati makanannya dengan lahap. Sang suami berdiri tanpa pamit kepada istrinya. Istrinya melongo memandang dengan penuh prasangka. “Ah dia mau kemana?” Tanyanya dalam hati. Tiba-tiba sang suami datang. Ia hanya memandang. Suaminya kembali duduk, menghabiskan sisa nasi goreng bebeknya yang jarang ia nikmati sekian purnama lamanya.
Tak lama berselang datanglah mbak-mbak membawa mi goreng seafood dan segelas lemon tea segar. Si istri hanya melihat tak tertarik. “Makasih mbak.” Kata suaminya pada mbak-mbaknya. Memandang istrinya yang daritadi menatapnya “ini buat bunda. Makan!” Ujarnya tegas dengan tatapan yang mengingatkan sang istri pada tatapan hangat suaminya saat pertama kali mereka berjanji akan menikmati hidup bersama.
#akuRinduKamu
Leave a Reply