Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sejak 2012. Aku selalu datang ke kota ini. Sebelum menikah, aku bahkan tidak punya tempat untuk pulang. Lahir dan besar di Semarang membuatku tidak punya kampung halaman. Hanya saja, aku memang rutin mudik ke Solo ke tempat simbahku berada. Jadi kalau ada orang tanya, mudik kemana? Aku dengan bangganya bilang “Solo”. Fakta uniknya, gak ada yang percaya kalau aku orang Solo… Lah emang bukan… cuman aslinya keturunan Solo (walau banyak juga yang lebih gak percaya… yo wes lah).
Oke lanjut yak…
Setelah menikah dengan suamiku, aku selalu mudik ke kampung halamannya. Menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 66 kilometer yang ditempuh dengan sekitaran 2 jam-an naik mobil pribadi. Aku lebih memilih untuk menempuhnya di malam hari. Dan aku akan sangat menyarankan untuk berpergian di malam hari karena suasana perjalanannya lebih sejuk dan menenangkan dibandingkan di siang hari….panasnya menyengat sekali. Sebetulnya, lebih enak lagi kalau naik kereta api lokal. Waktu tempuhnya hanya satu jam perjalanan saja. Tapi, minusnya adalah transportasi dari Stasiun Kereta ke rumah suami agak susah.
Heh,,… sebenernya kemana sih mudiknya?
Belum bisa menebak ya?
Ok…. Daerah ini adalah tempat yang terkenal dengan olahan daging kambing/sapi yang salah satu bumbunya adalah daun kedondong. Nama olahan ini adalah Jangan Becek. Jangan atau dalam bahasa Indonesianya adalah sayur. Jangan becek ini adalah sayur yang menurutku unik sekali rasanya dan membuatku jatuh cinta sama kota ini…eh alasanku jatuh cinta dengan salah satu penduduknya yaitu suamiku…wkwkwk….*dulu saat pertama kali kopdar (duh ketauan umurnya dong ini) hahaha… di kotanya, aku memaksa dirinya untuk mentraktir makan jangan becek ini. Makanya aku punya memori yang kuat dengan jangan becek ini. hehehe…
Ok…
Kesini lho kami sekeluarga mudik,…

Yup… Purwodadi.. Kab Grobogan….
Leave a Reply